Jumat, 10 Desember 2010

Harta karun, ada di dalam kebun nak...!


Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan berakhlak baik, dan mempunyai beberapa anak laki-laki yang malas dan tamak. Ketika sekaratul maut, Sang Ayah mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun jikalau mau menggali tempat tertentu di kebunnya. Segera setelah ayah mereka meninggal, anak-anaknya bergegas ke kebun, menggalinya dari satu sudut ke sudut lain, namun mereka tidak menemukan emas harta karun di tempat yang disebut ayahnya, mereka putus asa.

Mereka mulai menyadari bahwa ayahnya mungkin telah membagi-bagikannya kepada orang lain semasa hidupnya, kemudian merekapun menanggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya lebih baik ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang hasilnya melimpah-limpah, kemudian menjualnya, tahun demi tahun mereka mulai memetik hasilnya dan menjadi kaya karenanya. Setiap selesai musim panen, mereka berpikir lagi tentang harta karun terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian, mereka pun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama saja.


Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa bekerja keras, dan mengenal musim, hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan dan pahami sebelumnya. Kini mereka sadar bagaimana cara ayahnya mendidik, di kemudian hari mereka menjadi petani-petani yang jujur dan senang hidupnya dengan memiliki kekayaan yang cukup untuk membuatnya melupakan sama sekali harta terpendam tersebut. Itulah ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia.



Guru yang baik tentu akan bijak menghadapi ketidaksabaran, kebodohan, dan ketamakan murid murid, ia harus mengarahkan mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat dan menguntungkan di kemudian hari, mereka berlaku demikian karena belum dewasa dan ketidaktahuannya. Hal yang perlu digarisbawahi bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuannya dan mengulanginya untuk mendapatkan hal yang lebih dari yang mereka ketahui.
Demikian halnya dengan kehidupan abadi nanti, di dunia kita perlu terus-menerus mengingatkan dan mengajak mereka dan menerapkannya pada diri sendiri untuk kebaikan yang manfaatnya akan dirasakan setelah meninggalkan alam fana ini, namun kadangkala kita terbawa emosi dalam menghadapi orang-orang yang menurut pandangan umum masih jauh dari jalan Allah, misalnya terhadap orang-orang curang, berbuat dzalim terhadap yang lain, ataupun tamak, kita lantas men-judge mereka buruk, atau mengatakan orang lain kafir dan sebagainya, mungkin malah kita yang kafir karena tidak mengimani larangan mengatakan kafir terhadap yang lain.


Mereka mungkin belum tahu karena memang belum ada yang memberi tahu, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’, 34: 28). Kemudian jika mereka sudah diberi tahu, namun mereka masih lalai dan membantah tentang apa yang kita sampaikan. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl, 16:125).
Setelah seluruh upaya telah dilakukan dan mereka masih seperti itu, biarkanlah. “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al Muzzammil, 73: 10). Demikian Islam mengajarkan kebaikan pada kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa membukakan pintu hati kita menerima setiap kebenaran dan menolak kebathilan. Innallaaha bima ta’maluuna basiir. Amin.

insyallah ini baik,


Dikisahkan, ada seorang raja yang setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yang terkenal dengan ketakwaan dan wirainya. Tiap kali raja menemui sesuatu yang tidak mengenakkan, sahabatnya selalu berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Kata-kata ini selalu diulang-ulanginya pada setiap kejadian yang secara dhahir adalah kejadian buruk.

Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabatnya ditemani oleh pengawalnya, jari raja terkena tombak dan terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Raja marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakannya. Saat pengawal ditanya, “Apa yang dikatakannya saat kalian menutup pintu penjara?” Pengawal menjawab, “Ia hanya mengatakan, ‘Semoga ini baik, insya Allah.”

Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabatnya, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yang menyembah berhala dan tiap tahun mengorbankan orang kepada berhalanya tersebut. Raja pun ditangkap oleh suku tersebut. Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tidak lengkap. Mereka pun menolak mengorbankannya, sebab korban harus dalam kondisi yang sempurna. Raja lalu dilepas dan ia kembali ke istananya.

Akhirnya ia menyadari kebenaran ucapan sahabatnya. Sahabatnya pun dikeluarkan dari penjara. Raja bertanya, “Ketika engkau mengatakan, ‘Semoga itu baik, insya Allah.’ Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tidak sempurna. Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?” Ia menjawab, “Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu.”

oOo

Jika anda mendapat kejadian buruk ucapkan : "Semoga ini baik, insya Allah.”
Semoga ALLOH SWT memberi kebaikan pada kehidupan Anda. Amiin :)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetauhi”. (QS Al-Baqarah : 216).

Kamis, 09 Desember 2010

KISAH UMAR BIN KHATTAB DAN SEEKOR BURUNG PIPIT (KASIH SAYANG KEPADA SEMUA MAKHLUK)

Ketika umar meninggal, para ulama di kota itu bermimpi bertemu dengan beliau. Mereka pun bertanya : “Engkau adalah sahabat nabi, dan selalu meyertai perjuangan nabi. Pastilah engkau mendapatkan hadiah yang indah dari ALLAH . Apa yang Allah lakukan kepadamu ?

Jawab Umar : Allah telah mengampuniku dan membalas amal perbuatanku.

Namun diluar itu, ada satu yang paling ALLAH sukai dimana akupun tidak menyangka dengan amalan itu Allah sangat dekat denganku.

Amalan apa wahai umar , tolong beritahu kami, pinta para ulama

Kemudian Umar menceritakan bahwa saat dahulu menjabat sebagai khalifah ( kepala pemerintahan), ia sering menyamar sebagai rakyat kecil dan berkeliling kota .

Pada suatu hari ia melihat sekelompok anak –anak kecil sedang bermain. Ditangan mereka tergenggam seekor burung pipit yang terikat dan dijadikan bahan permainan sehingga burung itu tampak kelelahan dan hampir mati. Oleh beliau burung itu hendak diminta, namun tidak diberikan . Akhirnya oleh sayidina umar burung itu dibeli seharga 100 dirham, dan setujulah anak2 kecil tersebut. Oleh beliau diambillah air dan diberinya burung pipit itu minum, dan kemudian dilepaskan burung itu kembali terbang.


Kepada para ulama Sayyidina Umar berkata :

“Tatkala kalian meletakkan jasadku di dalam kubur, dan meninggalkan ku seorang diri, tiba-tiba datanglah 2 malaikat yang sangat menakutkan. Terasa gemetar seluruh persendianku karena takut. Mereka berdua lalu memegang dan mendudukkan ku serta mengajukan pertanyaan.”

Tiba-tiba aku mendengar suara berseru tanpa terlihat siapa pemilik suara tersebut .

“Kalian tinggalkan hambaku ini, dan jangan kalian berbuat yang menakutkan. Sesungguhnya aku menyayanginya dan membalas amal perbuatannya karena dia menyayangi dan menyelamatkan seekor burung pipit pada waktu di dunia. Maka sebagai balasannya, AKUpun menyayanginya di alam akhirat,




Dikutip dari Buku Oase Spiritual 1 (hikmah dalam Ujaran & Kisah)
disadur dari kitab klasik Al Mawa’izh al Ushfuriah karya syaikh Muh bin Abu bakar al ushfuri.

Kisah Sang Kiayi Dan Burung Beo


Ada sebuah kisah tentang seekor burung Beo yang dipelihara oleh seorang ulama (kiyai) di sebuah pesantren. Sang Kiyai mengajari burung Beonya itu mengucapkan kalimat sapaan-sapaan islami termasuk kalimat Thoyyibah. Dan si Beo pun sangat familiar sekali mendengarkan dan mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dan apalagi dia tidak pernah mendengar perkataan-perkataan yang tidak senonoh karena dia berada dilingkungan pesantren yang sangat islami.

Pada suatu ketika sang Kiyai selesai memberi makan si Beo, beliau lupa menutup kandang Beo tersebut dan seekor kucing telah mengintai siBeo tersebut menerobos masuk kandangnya dan mengigit si Beo tersebut dan hendak memakannya. Dalam ketakutan dan kesakitan tersebut beopun berteriak "Keak....keak... keak..." sehingga terdengar oleh sang kiyai. Beliau bergegas menuju suara tersebut, dilihatnya si Beo telah mati dan digunggung oleh sang kucing keluardari kandangnya. Sejenak sak Kiyai tapakur melihat kejadian tersebut dan menangis sejadinya dan mengunci diri dikamarnya beberapa hari. Para santripun heran kenapa sang kiyai berbuat seperti itu karena hanya sedih ditinggal mati beonya?. Ditengah keheranan tersebut mereka pun mengirim utusan menemui kiyai nya untuk bertanya apa sebenarnya yang disedihkan oleh kiyai tersebut, masak karena hanya ditinggal mati oleh si Beo tersebut sang Kiyai jadi amat sangat bersedih sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar mereka. 

"Pak Kiyai.... apa sebenarnya yang membuat pak kiyai sebegitu amat sangat bersedih, jika itu dikarenakan oleh matinya si Beo, kami sanggup membelikan puluhan beo-beo lain untuk pak kiyai supaya pak kiyai dapat menghilangkan  kesedihannya dan mengajar kembali".  Seraya sang kiyai menjawab: "Santri-santriku tercinta bukan kematian beo itu yang sangat ku sedihkan, tetapi hikmah yang terkandung dalam peristiwa itu yang membuat aku sangat takut".
"Apa maksud pak kiyai" sambung para santri serempak penuh tanda tanya. "Si Beo yang berada di lingkungan kita ini yang insya Allah tidak pernah melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik apalagi maksiat dan juga aku mengajarkannya kata-kata yang baik khususnya kalimat Thoyyibah, tetapi ketika ia meregang nyawanya, dia tidak dapat mengucapkan kalimat tersebut, hanya "keak...keak.."yang kudengarkan dari mulutnya. Aku jadi berfikir, jangan-jangan nasibku atau kalian-kalian sama dengan si Beo tersebut. Dimana hampir setiap nafas kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan termasuk kalimat Thoyyibah tetapi dapatkah kita nanti membaca LA ILAHA ILLALLAH itu ketika sang malaikat maut menjempu kita ??? 

Wallahualam.............  Semoga kisah diatas bisa dijadikan renungan bagi kita ...........
Marilah kita perbanyak mengucapkan kalimat Thoyyibah.  Dengan harapan semoga kita mampu mengucapakan kalimat 'LA ILAHA ILLALLAH di saat sakaratul maut kelak.

من كان اخر كلامه لااله الا الله دخل الجنة
"Barang Siapa akhir ucapannya laa ilaha illalloh maka ia akan masuk sorga"

اللهم إنا نسالك حسن الخاتمة ونعوذبك من سوء الخاتمة
"Ya Alloh sesungguhnya kami memohon kepada-Mu Baik Di Akhir dan berlindung kepada-Mu dari Buruk di akhir"
Amin.